sabar menerima apa adanya dan ikhlas memberikan apa yang ada http://www.syechbagusali.blogspot.com silaturahmi........


Pancasila Ditangguhkan




Suatu hari, para kiai seluruh Madura bermusyawaroh, membicarakan tema Pancasila dan Islam. Saat malam tiba, sesi pembacaan keputusan dimulai.
"Bismillahirohmannirohim," seorang kiai berjubah memulai membacakan kesepakatan.

"Berdasarkan musyawaroh para kiai dan alim ulama, atas dasar menjalankan ajaran Islam, serta mendukung keputsan PBNU beberapa waktu lalu, kami menyatakan.." lanjut kiai tadi.

1. Pancasila tidak bertentangan dengan Islam;

2. Orang Islam wajib melaksanakan keputusan ulil amri bahwa Pancasila adalah dasar negara.

Tapi, kiai tadi belum selesai membaca, ada seorang kiai berbaju hitam di belakang mengacungkan tangan, dan ngomong dengan lantang:

"Kiai, Pancasila harus ditangguhkan!"

Seisi ruangan mendandak ribut, para kiai saling berpandangan. Lalu ada kiai berdiri merespon, "Apa maksud Sampean, Kiai. Kita kan sudah sepakat tentang Pancasila?"

"Lha iya, karena itu, Pancasila harus ditangguhkan! tegas kiai berbaju hitam tersebut, kali ini dengan mengepalkan tangan.

"Gimana Sampean Kiai, kita kan sudah sepakat Pancasila itu asas negara dan tidak bertentangan dengan Islam? Semua kiai dan PBNU sudah sepakat."

"Makanya, Pancasila harus ditangguhkan, karena kita semua sudah sepakat," ujar kita berbaju hitam itu tetap ngotot.

"ooo.. Maksud kiai itu Pancasila harus diperkokoh, dikuatkan, harus tangguh. Begitu kan Kiai? kata moderator.
"Nah, betul Sampean Pak Moderator. Pancasila ditangguhkan itu maknanya dikokohkan, dipertangguh.."

"Hahaha.. Penjelasan kiai berbaju hitam itu disambut gelak tawa. Seorang kiai nyeletuk, "Maklum, dia belum pintar Bahasa Indonesia.." (hs)

Sumber: http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/8/32242/Humor/Pancasila_Ditangguhkan.html
»»  read more

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Hidayah Datang Setelah Octhavio Mimpi tentang Rasulullah



Hidayah Datang Setelah Octhavio Mimpi tentang Rasulullah
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Siapa itu Muhammad? Itulah pertanyaan singkat Octhavio kepada pamannya yang bernama, Luqman Likur.

Pertanyaan itu muncul ketika terbangun di siang hari, setelah bermimpi dibangunkan dari tidur. Kemudian, kisahnya, terdengar suara kakek, yang mengatakan  “Apa yang kamu lihat di atas kuburan kamu itu. Kamu ini suatu saat nanti kalau mati tidak akan masuk surga. Karena bukan umat Nabi Muhammad,” kenang dia.

Ia segera menghampiri sang paman, yang kebetulan seorang Muslim. Pamannya mengatakan Muhammad adalah pemimpin umat Islam.

Sang paman lantas mengatakan kepada Thayyib apa yang dimimpikannya merupakan berkah. Namun,sang paman belum mengatakan bahwa mimpi itu merupakan tanda-tanda hidayah. “Saat itu, saya tidak terlalu hiraukan mimpi itu, “ katanya.

Tak dinyana, mimpi itu kembali terulang. Tepat dua minggu usai mimpi yang pertama, saat itu hari Jumat, Thayyib kembali tertidur. Lalu dia kembali bermimpi.

Dalam mimpi itu, ia melihat kumpulan kakek tua berjanggut. Salah seorang dari mereka kemudian menggedor-gedor pintu rumahnya.  “Hei bangun, orang-orang pada shalat kamu kok masih tidur. Ayo bangun shalat,” ungkapnya.

Usai Maghrib di hari yang sama, ia membuat putusan mengejutkan. “Saya mau masuk Islam,” kata Octhavio. Sang paman yang terkejut bertanya kepada ponakannya itu tentang keseriusannya. Keputusan berislam, kata sang paman, bukan keputusan main-main.

Ia menjawab, urusan memeluk sebuah agama merupakan hal pribadi.Tepat 31 April 2004, dengan disaksikan oleh sang kakek, ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Kepada para saksi, ia mengaku dirinya memutuskan memeluk Islam tanpa paksaan. "Meski saya tinggal bersama paman saya yang Muslim, saya tidak pernah dipaksa beliau untuk memeluk Islam,” kenangnya.

“Usai memutuskan memeluk Islam, saya belum giat mempelajari Islam. Masih banyak hal yang seharusnya tidak saya lakukan namun saya langgar,” aku pria yang bernama Muslim Muhammad Thayyib Gushah itu.


Kabar keislamannya sampai ke telinga sang mama. "Dua tahun saya tak disapa beliau, tapi saya terus menjelaskan alasan saya memilih Islam," katanya. Ia tetap menghormati ibunya, bahkan makin menunjukkan rasa hormat dan kasih sayangnya.

Pintu dialog pun terbuka. "Kenapa kau tiba-tiba memperhatikanku," kata sang ibu. ”Inilah Islam. Inilah ajaran Islam,” jawab dia. Akhirnya, mamanya menerima putusan anaknya untuk memeluk Islam. Bahkan seorang adiknya mengikuti jejak Octhavio memeluk Islam.


Kini ia mendalami agama di Pesantren  Annaba Center. “Saya selalu mendapatkan godaan terutama saat melihat kaum hawa. Kedua, saya juga mudah tergoda dengan mabuk-mabukan dan merokok. Alhamdullah, selama mondok, saya sudah mengetahui tentang bagaimana menghindar dari larangan oleh Allah,” ujarnya. Dia pun serius mendalami Islam. Sedikit demi sedikit, ia mulai menghafal Alquran dan rajin shalat.


Ke depan, Thayyib yang tengah kulaih di Fakultas Sastra Inggris ini bercita-cita ingin menjadi seorang guru.

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/04/30/lkg5mj-hidayah-datang-setelah-octhavio-mimpi-tentang-rasulullah
»»  read more

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

NU Tidak Kafirkan NII



SURABAYA, KOMPAS.com — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tidak menganggap Negara Islam Indonesia adalah orang kafir karena sama-sama orang Islam. Namun, PBNU menyerukan kepada semua pihak untuk memerangi gerakan NII karena mengancam kedaulatan negara.


"Kami tidak mengafirkan orang NII meskipun mereka mengafirkan kami, tapi gerakan mereka wajib diperangi," kata Ketua PBNU Said Agil Siradj di Surabaya, Selasa  (17/5/2011) sore.

Dalam pandangan NU, menurut Said, aktivitas NII yang ingin mendirikan negara dalam negara adalah bughat atau upaya pemberontakan, dan semua bentuk pemberontakan wajib diperangi. NU, lanjutnya, mendukung dan mengakui ideologi Pancasila sebagai ideologi negara dan menolak segala macam bentuk gerakan yang mengancam kedaulatan NKRI, termasuk gerakan teroris.
Dia mengapresiasi kinerja kepolisian yang berhasil menangkap puluhan tersangka teroris dalam waktu singkat pasca-pengeboman kantor polisi di Cirebon. "Sayangnya, semangat polisi hanya setelah kantornya dibom," kritiknya.

Sumber: http://regional.kompas.com/read/2011/05/17/20154115/NU.Tidak.Kafirkan.NII
»»  read more

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Amien Rais Ajak Tingkatkan Tahlilan Bersama



REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA--Penasehat PP Muhammadiyah Prof HM. Amien Rais mengatakan bahwa saat ini umat manusia menghadapi lima krisis yaitu krisis kependudukan, krisis pangan, krisis energi, krisis ekologi/lingkungan. Untuk mengatasi hal itu Amien mengajak kaum Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk meningkatkan tahlilan bersama-sama..

''Kalau tidak mau tahlilan keluar dari Muhammadiyah dan Aisyiah,''tegas Amien saat menyampaikan pengajian dalam Tabligh Akbar Muktamar Aisyiyah ke-46 dengan tema Nir Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Salah Satu Kunci Peradaban Bangsa yang diselenggarakan di Graha Wana Bhakti Yasa, Yogyakarta, Sabtu (3/7). Tabligh Akbar ini dibuka oleh Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar.

Menurut Amien, ada dua macam tahlil yaitu dengan lisan atau mengucapkan lailahaillallah dan dengan anggota badan dengan mewujudkan menjadi amal sholeh yang konkret. Hal inilah yang membedakan organisasi Muhamammadiyah dan Aisyiyah dengan organisasi lain bahwa islam itu dua sisi dari satu mata uang yang sama yaitu iman dan amal sholeh.

''Maksud saya Muhammadiyah dan Aisyiyah harus meningkatkan bil lisan dan bil arkhan untuk mengatasi lima krisis yang dihadapi umat Islam. Meskipun tidak mungkin kita sendirian memikul lima krisis. Namun setidaknya kita memberi kontribusi sumbangan untuk menjawab tantangan lima krisis tersebut,''ungkap dia.

Lebih lanjut dia mengatakan saat ini yang dihadapi Muhammadiyah dan Aisyiyah tantangannya makin kompleks dan komplikasi, jauh berbeda dengan yang dihadapi kakek nenek satu abad yang lalu. Tetapi perintah Al-Qur'an bahwa menjadi khoiro umatin tidak pernah hilang dengan tantangan semakin menggunung. ''Namun kalau kita bisa menghadapi perubahan global jangan puas apalagi kalau mampu membuat antisipasi terhadap perubahan karena itu tidak sulit,''kata Amien.

Dikatakan Amien yang lebih menantang lagi adalah apabila kita tahu memanejemen perubahan. Apabila Muhammadiyah mempunyai impian menjadi lokomotif membangun peradaban utama maka harus ikut memegang kunci peradaban ini. ''Jadi, jangan sampai diantara Aisyiyah dan Muhammadiyah ada yang berpikir sudahlah di dunia jadi umat kalah dan terpinggirkan tak apa, tetapi masuk surga. Padahal kalau kita mendapat musibah dunia, jangan-jangan mendapat musibah akherat,''tutur dia.

Karena itulah Amien menegaskan Muhammadiyah dan Aisyiyah harus memegang kunci peradaban di dunia. Paling tidak kita bisa memegang kehidupan nasional di bidang keuangan, perbankan, perkebunan, kehutanan, pelayaran, pendidikan, pertanian, dan sebagainya. Dia memberi contoh bahwa pendiri Muhammadiyah Ki Dahlan dan Nyi Dahlan itu bukan manusia pemimpi, melainkan manusia yang beraksi berkarya nyata untuk mengubah kehidupan manusia ke kehidupan yang lebih bagus. .

Hal ketiga yang dianggap penting oleh Amien selain memenej perubahan dan memegang kunci peradaban adalah pentingnya kaderisasi buat masa depan dan gerakan Muhammadiyah dan Aisyiyah. Menurut dia, kaderisasi Muhammadiyah belum ideal tapi sudah lumayan, sedangkan kaderisasi Aisyiyah masih di bawah lumayan.

Untuk itu dia berharap agar kaderisasi Muhammadiyah dan Aisyiyah bisa lebih cepat dan merambah untuk penyegaran persyarikatan maka yang diperlukan pemimpin yang berusia 60-an dan 40-an dan syukur 30-an. '''Jadi pemimpin dengan usia tua dan muda sangat diperlukan untuk menjadi satu agar pertumbuhan kaderisasi lebih cepat lagi,''kata Amien yang mengharapkan Chamamah masih tetap menjadi Ketua Umum PP Aisyiyah.

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/muhammadiyah/10/07/04/122961-amien-rais-ajak-tingkatkan-tahlilan-bersama
»»  read more

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Franck Ribery: Islam Sumber Kekuatan



Islam telah memberiku kenikmatan dan kenyamanan.
Pada 2006, ketika timnas Prancis akan berhadapan dengan tim Swiss pada Piala Dunia, sorot kamera wartawan yang berkeliaran di lapangan menampakkan gambar sekilas Franck Ribery tengah berdoa, seperti yang dilakukan seorang muslim. Itu menimbulkan tanda tanya besar di masyarakat luas. Tapi justru itulah cara Franck Ribery menunjukkan kepada dunia bahwa dirinya telah menjadi seorang muslim.

Sebab, tak lama setelah itu pemberitaan tentang dirinya sebagai muallaf merebak ke seantero dunia. Ribery mengatakan, dia memilih ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW karena menemukan kedamaian.

Baginya, Islam adalah sumber kekuatan dan keselamatan. ''Islam adalah sumber kekuatan saya di dalam dan di luar lapangan sepakbola. Saya mengalami kehidupan yang cukup keras dan saya harus menemukan sesuatu yang membawa saya pada keselamatan, dan saya menemukannya pada agama Islam,'' tutur Ribery.

Kabar Ribery masuk Islam menyeruak sejak awal tahun 2006. Majalah L'Express menyebut, ada seorang pemain nasional
Prancis yang secara teratur beribadah di masjid di bagian selatan Marseille. Mingguan itu tidak menyebut namanya secara eksplisit, namun yang dimaksud adalah Ribery.

Padahal sebenarnya Franck Ribery telah memeluk Islam sejak tahun 2005 ketika dia bermain di klub Turki, Galatasaray. Di negeri bekas pusat kekhalifahan Utsmani itu Allah SWT memberikan hidayah kepadanya. Dia dipertemukan dengan seorang wanita asal Maroko,Wahiba Belhami, yang kemudian menuntunnya masuk Islam dan akhirnya mereka menikah.

Barangkali, karena prosesnya masuk Islam terbatas di lingkungan keluarga, Ribery selalu menolak mengatakan keislamannya kepada publik.

Sejak Ribery bermain bersama klub Galatasaray, Turki pada 2005, ia sering berbaur dan berdiskusi dengan komunitas muslim di sana

Istiqamah Shalat Fardhu

Ribery dikenal sebagai pribadi yang santun, rendah hati, dan istiqamah melaksanakan shalat lima waktu. Para penggemar sepakbola dunia tentu sudah tak asing dengan nama Franck Ribery. Dia adalah gelandang serang asal Prancis yang kini bermain di klub raksasa Bundesliga (Jerman), Bayern Muenchen.

Pesepakbola bermata biru yang memperkuat tim Prancis itu memulai karier sepakbolanya dengan tim Boulogne di tanah kelahirannya. Kemudian, ia pindah ke tim Ales, Brest, dan FC Metz. Kepintarannya menggocek dan mengolah si kulit bundar sudah tidak diragukan lagi. Ketika Real Madrid mengajukan tawaran ke Bayern Muenchen, harga yang dibanderol di atas pemain termahal dunia Cristiano Ronaldo. Ini menunjukkan betapa Bayern tidak mau melepas Ribery. Ia seorang yang jenius di lapangan hijau, kreator, juga menjadi inspirator tim. Mirip peran yang dimainkan seniornya, Zinade Zidane.

Keimanan dan kepribadian Ribery sebagai seorang muslim tak perlu diragukan lagi. Di tengah padatnya jadwal pertandingan, bapak dua anak ini tak pernah lupa dengan kewajibannya sebagai muslim. Ia senantiasa melaksanakan
shalat lima waktu.

Ribery juga dikenal sebagai pribadi yang santun dan rendah hati. Islam benar-benar telah mengubah perangainya yang keras dan arogan menjadi seorang pribadi yang santun dan memiliki akhlaq mulia.

Sifat dan akhlaqnya ini membuat kagum rekan-rekannya di timnas Prancis, FC Bayern Muenchen, maupun kerabatnya.
Steve Bradore dari Organisasi Syuhada, yang melayani para muallaf Prancis,

mengatakan, muslim Prancis merasa bangga sekali dengan Ribery. ''Dia adalah sumber kebanggaan kami, karena penampilannya yang khas dan kerendahan hatinya,'' kata Steve.

Saat ini, Ribery bermain untuk klub sepakbola Jerman, FC Bayern Muenchen. Kontrak Ribery bersama “FC Hollywood”, julukan Bayern Muenchen, akan berakhir pada
2011.

Ribery termasuk pesepakbola yang sangat sukses. Di usianya yang baru 26 tahun, dia sudah mengoleksi berbagai gelar. Antara lain, satu gelar Fortis Piala Turki bersama Galatasaray di musim 2004/2005, Piala Intertoto bersama Olympique Marseille di tahun 2005, Piala Liga Jerman bersama Bayern Muenchen di tahun 2007, Piala Jerman dan Bundesliga Jerman di tahun 2008. Selain itu, penghargaan Pemain Terbaik Prancis di tahun 2007 dan 2008, juga Pesepakbola Jerman Terbaik di tahun 2008.

Raja Bavaria



Franck Ribery lahir di Boulogne-sur-Mer, Prancis, 7 April 1983. Ia memiliki tinggi badan 175 cm. Sebelum di FC Bayern Muenchen, Jerman, ia main di klub US Boulogne (2001-2002), Olympique Ales (2002-2003), Stade Brestois 29 (2003-2004), FC Metz (2004), Galatasaray (2005), dan Olympique Marseille (2005-2007).

Di lapangan, ia hebat. Dalam kehidupan sosial, ia berkepribadian hangat. Sebagai individu, ia pun rajin shalat. Franck Ribery adalah figur kesayangan publik Allianz Arena, markas Bayern, saat ini. Tidak salah Bayern memecahkan rekor transfernya untuk memboyong pria berusia 26 tahun itu. Faktanya, dalam tujuh bulan sejak bergabung dengan Bayern Muenchen, Ribery sudah berhasil menancapkan pengaruhnya, baik di klubnya maupun Bundesliga.

Pemain seharga 26 juta euro ini makin disenangi orang karena pembawaannya yang menyenangkan dan sikapnya yang selalu profesional. Di saat cuaca dingin bulan Februari masih mengakrabi Munich dan ia tengah berkutat dengan cedera kaki, ia tidak malas untuk muncul di kamp latihan.

Dia juga tak pernah menolak fans yang menginginkan tanda tangannya ataupun berfoto bersama, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Dan, itu senantiasa ia lakukan dengan senyum mengembang di bibirnya. "Mereka mungkin tak pernah melihat seorang pemain seperti saya, yang senang tertawa dan biasa berkelakar," katanya. "Saya ini orang yang sederhana dan simpel saja."

Di koridor berbagai fasilitas kamp latihan Bayern, ia selalu menyapa orang-orang. "Saya ingin menjadi teman siapa pun," ujarnya sambil tersenyum. "Dua menit untuk berfoto dan memberi tanda tangan buat fans amatlah penting, karena buat mereka itu sangat berarti."

Ribery merasa bersyukur dengan kariernya, di masa kecil ia harus menjalani kehidupan yang sulit bersama keluarganya di daerah Boulogne-sur-Mer. Namun ia pun menyadari, sukses bukanlah sesuatu yang abadi. Roda kehidupan selalu berputar.

Yang jelas, Ribery telah menjadi sosok istimewa buat warga Munich. Di depan Theatinerkirche, yang ada di pusat kota tersebut, terpampang billboard raksasa bergambar Ribery memakai jubah raja, disertai tulisan Bayern Hat Wieder Einen Konig (Bavaria punya raja lagi). Bavaria adalah julukan lain Bayern Muenchen, selain FC Hollywood.

Pria yang di wajahnya ada bekas luka karena kecelakaan mobil yang dialaminya waktu kecil itu dianggap sangat penting buat FC Hollywood. Komentar di sebuah koran berbunyi, "Bayern Munich tanpa Ribery seperti sekelompok anak tanpa ibu."

Selain Ribery, di kancah Eropa kini juga banyak bintang sepakbola yang beragama Islam. Misalnya, Zinedine Zidane, mantan pemain terbaik dunia asal Prancis, Nicholas Anelka (Chelsea/Prancis), Frederik Kanoute (Sevilla/Mali), Khalid Bouhlahrouz (Sevilla/Tunisia), Zlatan Ibrahimovic (Inter Milan/Swedia), Eric Abidal (Barcelona/Prancis), Kolo Toure (Chelsea/Sinegal), dan Yaya Toure (Barcelona/Sinegal). Mereka menjadi andalan klub maupun negaranya masing-masing.

Bill, dari berbagai sumber

Sumber: http://www.majalah-alkisah.com/index.php/cahaya-hati/752-franck-ribery-islam-sumber-kekuatan
»»  read more

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Eric Abidal: Islam Menjadi Penyemangat





Dia memeluk Islam dengan keyakinan penuh. Prestasinya di lapangan hijau pun semakin mengkilat
.

Islam memberi inspirasi kepada setiap orang. Agama yang diturunkan kepada seluruh umat manusia ini memberikan tempat terbaik kepada siapa saja yang berusaha dan bekerja keras untuk mencapai prestasi dalam bidang yang diminatinya.
Tidak terkecuali dengan pesepakbola Eric Abidal. Pencinta bola pasti sangat kenal dengan palang pintu tim nasional Prancis ini yang sekarang merumput di Barcelona.
Dia termasuk barisan belakang yang sulit untuk dilewati oleh penyerang lawan. Keahliannya memotong bola lawan yang mengancam gawangnya merupakan kelebihan tersendiri. Eric juga sangat kuat dalam memenangkan duel di udara.
Ia, yang lahir pada 11 Juli 1979 di Lyon, Prancis, sebelumnya seorang pemeluk agama Katolik. Namun setelah menikah dengan wanita Aljazair, dia memeluk agama Islam dengan tambahan nama Islam Bilal, sehingga panjangnya Eric Bilal Abidal.
Sebenarnya, sejak memeluk Islam, Eric Abidal menjadi muslim yang taat, tidak pernah melupakan shalat. Apalagi di Nou Camp, markas Barcelona, ada beberapa pemain yang juga beragama Islam, yakni Seydou Keita, Yaya Toure, dan Thierry Henry. Namun, ketika Ramadhan tiba, karena jadwal kompetisi yang amat padat, mereka pun memutuskan untuk tidak berpuasa dan menggantinya di luar bulan Ramadhan.
Eric Abidal memulai karier profesionalnya bersama AS Monaco, 16 September 2000, dia 22 kali tampil bersama skuad utama Monaco. Setelah itu dia pindah ke Lille OSC. Di klub inilah dia bereuni dengan mantan pelatihnya, Claude Puel, dan 62 kali membela Lille.
Di akhir tahun 2004, dia kembali asalnya, bergabung dengan Lyonnais, julukan untuk klub Lyon. Dia meraih dua gelar Ligue 1 berturut-turut selama dua musim. Selama kariernya di Prancis, dia dikenal sebagai salah satu bek terbaik di Ligue 1.
Di Lyon, dia bermain bersama kiper Gregory Coupet, Francois Clerc, dan Anthony Reveillere, dan dua pemain Brazil, Cris dan Cacapa.
Pada 30 Juni 2007, Eric Abidal pindah ke Barcelona dengan nilai transfer 15 juta euro, setelah menyatakan dirinya tidak akan berlatih jika dia tidak diizinkan pindah ke Barca. Di Nou Camp, dia menggunakan nomor punggung 22, pasalnya nomor 20, yang dia kenakan di Lyon, telah dipakai oleh pemain Barcelona asal Portugal, Deco, yang kini telah pindah membela Chelsea.
Sejak itu, Eric Abidal menjadi pemain pilar Barca. Presiden Barcelona Joan Laporta menyatakan, kontrak Eric Abidal bernilai 90 juta euro, dengan klausul pelepasannya, dan Lyon akan menuai bonus sebesar 500.000 euro, jika Barca menuai gelar Liga Champions, untuk empat tahun ke depan. Dan itu terjadi di tahun 2008 setelah mengalahkan Manchester United di Roma.

Muslim yang Taat
Eric menyatakan, ia memeluk Islam dengan keyakinan penuh. Jauh sebelum menikah, ia telah jatuh hati kepada ajaran Islam, yang menurutnya sangat inspiratif dan menjadi motivator baginya dalam berkarier sebagai pemain bola.
Mungkin Eric banyak belajar dari kehidupan teman-temannya yang beragama Islam, seperti Zidane, Anelka, dan Henry, yang karier mereka mantap dengan tuntunan moral yang tegas dan bersih dalam Islam. Bahwa kemudian Eric jatuh hati kepada seorang muslimah, itu membuat jalan hidupnya semakin mantap untuk memeluk Islam.
Semangat beragama yang menyala-nyala pada dirinya telah menular pada kinerja dan kiprahnya di sepakbola. Kalau masuk waktu shalat, biasanya Eric bergegas untuk menunaikan ibadah wajib itu. Di tengah latihan-latihan yang berat sebelum pertandingan di La Liga atau jadwal pertandingan Liga Champions, Eric Abidal meminta izin untuk mendirikan shalat. Dia dengan rajin selalu membawa perlengkapan shalat dalam tasnya dan tidak ketinggalan sebuah Al-Quran dengan terjemahan bahasa Prancis.
Begitulah seharusnya seorang muslim: patuh kepada Tuhannya dan berprestasi di bidangnya. Bill

Sumber: http://www.majalah-alkisah.com/index.php/cahaya-hati/401--eric-abidal-islam-menjadi-penyemangat
»»  read more

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Nabi pun Memperingati Maulid…



Imam Muslim dalam Shahih-nya (2/819) meriwayatkan dari Abu Qatadah bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab, "Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari turunnya wahyu kepadaku."
Pada abad ke-14 H, muncul sekelompok orang yang mengharamkan ziarah kubur, termasuk kubur Nabi SAW, melarang bertawassul dengan nabi-nabi dan orang-orang shalih, melarang membaca doa bersama-sama setelah shalat fardhu, termasuk melarang peringatan Maulid Nabi SAW.

Mereka menyebut peringatan Maulid sebagai bid’ah yang sesat. Bahkan sebagian mereka menyatakan, peringatan Maulid adalah perbuatan syirik, dan pelakunya adalah musyrik.

Tidak tertutup kemungkinan, karena ketidaktahuan umat, hingga kini masih ada di antara mereka yang juga bersikap demikian. Yang sering terucap di antara mereka adalah bahwa peringatan Maulid itu bid’ah, dan karena bid’ah hukumnya sesat.

Bahasa adalah fenomena. Dan, sebagai sebuah fenomena, barangkali memang sulit bagi kita untuk membendungnya. Demikian pula fenomena penggunaan kata “bid’ah” dalam masyarakat kita. Tanpa konteks tertentu, kata itu mungkin berkonotasi “haram”, “sesat”, “terlarang”, dan sebagainya. Tapi, apakah semua bid’ah itu haram?

Tidak! Para ulama membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah, bid’ah yang baik, dan bid’ah qabihah, bid’ah yang tercela.

Bid’ah hasanah adalah perbuatan-perbuatan yang belum dikenal pada masa Nabi SAW namun tidak bertentangan dengan Al-Quran dan as-sunnah. Contohnya, menghimpun Al-Quran ke dalam sebuah mushhaf, mengumpulkan orang-orang untuk mengerjakan shalat Tarawih berjama’ah.

Lalu bagaimana dengan sabda Rasulullah SAW “Setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”?

Untuk menjawab itu, kita juga mesti menyimak sabda Rasulullah SAW yang lain, “Siapa yang membuat bid’ah sesat, yang tidak diridhai Allah dan Rasul-Nya, atasnya dosa orang yang mengamalkannya, tanpa sedikit pun mengurangi dosa-dosa mereka.” Dari bagian kalimat “bid’ah sesat, yang tidak diridhai Allah dan Rasul-Nya”, bisa dimaknai bahwa ada bid’ah lain, yang diridhai Allah dan Rasul-Nya, yakni bid’ah hasanah.

Jadi, yang dimaksud dengan hal baru dalam hadits “Setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat” adalah hal-hal baru yang bathil, yang tidak diridhai Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan perayaan Maulid jelas adalah bid’ah hasanah.

Di samping dalil tentang bid’ah itu, masih ada dalil-dalil lain yang sangat kuat ihwal disyari’atkannya Maulid:

•    Perintah mengagungkan hari dan tempat kelahiran beberapa nabi dalam Al-Quran dan sunnah.
•    Kisah Abu Lahab yang memerdekakan budaknya, Tsuwaibah Al-Aslamiyyah, karena gembira dengan kelahiran Nabi SAW.
• Peringatan yang dilakukan oleh Nabi SAW di hari kelahirannya dengan melakukan puasa pada hari Senin.
• Hadits shahih yang berasal dari Nabi SAW tentang puasa hari Asyura.
• Nabi SAW melakukan aqiqah bagi dirinya setelah diutus menjadi nabi.
• Perintah memuliakan hari Jum`at karena sebab diciptakannya Nabi Adam AS di hari itu.
• Penyebutan Allah SWT tentang kisah para nabi dalam Al-Quran, di antaranya kisah kelahiran Nabi Yahya AS, Maryam, dan Nabi Isa AS.
• Maulid sebagai perantara untuk melakukan berbagai perbuatan taat.
• Firman Allah SWT, “Katakanlah (Muhammad), ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” – QS Yunus (10): 58.
• Perayaan Maulid bukanlah ibadah tawqifiyah, ibadah yang pasti dan sudah jelas mutlak dalilnya, melainkan taqarrub yang mubah.
Kaidah ushul fiqh anna ma dakhalah al-ihtimal saqath al-istidlal, segala sesuatu yang mengandung kemungkinan tidak dapat dijadikan dalil.
Nafy al-`ilm la yulzam minh nafy al-wujud, ketidaktahuan tidak melazimkan ketidakadaan sesuatu.

(Bagaimana penjelasan dalil-dalil itu, silakan baca alKisah edisi 02 rubrik Kisah Utama).

MS

Sumber: http://www.majalah-alkisah.com/index.php/dunia-islam/795-nabi-pun-memperingati-maulid
»»  read more

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Ustadz T.M. Fouzy: Selamat Tinggal, Wahabi…



Setelah didoakan Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, hatinya terbuka untuk kembali mengikuti ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah secara utuh tanpa terpengaruh paham Wahabi lagi.
Untuk ukuran orang Melayu, perawakan tokoh ini cukup besar, meskipun tidak terlampau tinggi dan tidak pula terlalu gemuk. Kulitnya bersih dan penampilannya rapi. Orangnya ramah, mudah diajak berbincang-bincang, dan cepat akrab. Sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda kesombongan meskipun ia sosok yang memiliki banyak kemampuan, baik keilmuan maupun yang lainnya, dengan pengalaman yang luas di berbagai negara.       

Tengku Mohd Fouzy bin Tengku Mahid Jumat, demikian nama lengkap tokoh ini. Ustadz Fouzy adalah nama yang tak asing lagi bagi muslimin Singapura. Betapa tidak, kegiatan dakwah dan pendidikan Islam di sana banyak yang berkaitan dengan dirinya. Sejak akhir 1980-an hingga kini ia eksis sebagai tokoh yang menyuarakan dakwah Islam berdasarkan paham Ahlussunnah wal Jama’ah di Singapura. Namun untuk sampai pada pilihan itu secara mantap perlu waktu yang tidak sebentar.

Tokoh ini lahir tanggal 8 November 1955 di Singapura, yang juga tempat lahir ayah-ibunya. Ia putra kedua pasangan Tengku Mahid Jumat, yang berasal dari Aceh, dan Hajjah Salmah binti Haji Abdul Halim, berasal dari Melaka. Selain saudara sekandung, ia juga punya empat kakak lain ibu.

Sejak sekolah rendah (SD) hingga sekolah menengah, ia belajar di sekolah negeri. Sambil bersekolah, ia belajar kepada Kiai Kasim dengan mempelajari kitab-kitab Jawi (Arab Melayu),  seperti Siyarus-Salikin, Sabilal Muhtadin.

Selepas sekolah menengah, dalam usia sekitar 16 tahun, ia pergi ke India untuk belajar di Madrasah Sabilur-Rasyad, Bangalore, atas rekomendasi dari Jamaah Tabligh, karena sebelumnya aktif di perkumpulan ini.

Ia sebenarnya senang belajar di madrasah yang terletak di kawasan pegunungan ini. Tempatnya bagus dan udaranya pun sejuk. Guru-gurunya para pengikut tasawuf yang akhlaqnya bagus. Sayangnya ia hanya sempat belajar tujuh bulan di sini. Kendalanya adalah faktor bahasa. Untuk mempelajari bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama ia harus menggunakan bahasa Urdu, sedangkan ia tidak memahami bahasa tersebut. Tentu hal itu menyulitkannya. Tetapi keberadaannya di sana tidak sia-sia, karena selama tujuh bulan itu ia sempat mengikuti pelajaran Tahfizhul Qur’an.

Setelah itu, beberapa pelajar Malaysia menyarankannya untuk belajar di Kedah, Malaysia, di sebuah pondok bernama Mishbahul Falah. Maka pada tahun 1973, dalam usia 17 tahun, ia melangkahkan kaki menuju Kedah, tepatnya di Lanai, sebuah kampung di kawasan Baling, Kedah. Pendiri sekaligus pemimpin ma`had saat itu adalah Syaikh Umar Zuhdi, seorang alim yang sempat belajar selama lima tahun di Makkah. Sekitar dua tahun ia menimba ilmu di sini.

Pada tahun 1975, ibundanya ingin menunaikan ibadah haji dan mengajaknya untuk menemani. Setelah menunaikan haji, ia terus bermukim di sana menuntut ilmu. Selama dua tahun ia dapat mengikuti pengajian para ulama di Masjidil Haram.

Selama di Makkah, Ustadz Fouzy juga belajar di Darul Ulum, madrasah terkenal di sana yang menjadi salah tujuan para penuntut ilmu agama, khususnya yang datang dari Nusantara. Ia pun sempat mengikuti pelajaran di Madrasah Shaulatiyah, sebuah madrasah terkenal pula. Di antaranya gurunya di sini adalah Syaikh `Iwadh Al-Yamani dan Syaikh Ismail Al-Yamani. Kegiatan lainnya, setiap hari Jum’at Ustadz Fouzy bersama beberapa kawannya dan Syaikh Ismail Al-Yamani mendatangi rumah Syaikh Hasan Masysyath untuk mengikuti pengajian kitab Ihya` Ulumiddin.

Demikianlah, antara tahun 1975 hingga 1977, ia belajar di Darul Ulum sekaligus menimba ilmu di luar madrasah kepada para ulama Makkah, di antaranya menghadiri pengajian di halaqah Sayyid Muhammad Al-Maliki, yang ketika itu masih mengajar di Masjidil Haram. Guru-guru lainnya di Makkah adalah Syaikh Muhammad Quthb dari India (bukan Syaikh Muhammad Quthb Mesir), Syaikh Abdul Hamid Jaha, yang berasal dari Indonesia, Syaikh Abdul Karim Banjari, dan Syaikh Ali Cahya, ulama dari Patani, Thailand Selatan.       

Setelah selesai jenjang Mutawassith (setingkat Tsanawiyah/SLTP di Indonesia) di Darul Ulum, ia masuk kelas I tingkat Tsanawiyah (setingkat Aliyah/SLTA di Indonesia). Tapi kemudian ia direkomendasikan oleh Ar-Rabithah Al-Islamiyyah untuk masuk perguruan tinggi di Madinah, yakni Al-Jami`ah Al-Islamiyyah. Ia pun mengajukan permohonan dan alhamdulillah diterima. Tetapi sebelumnya ia mengikuti dulu tingkat-tingkat persiapan selama empat tahun, yakni satu tahun di kelas persiapan Bahasa Arab dan tiga tahun berikutnya di tingkat tsanawiyah yang berada di bawah universitas ini.

Setelah itu ia langsung masuk Kulliyyatusy-Syari`ah (Fakultas Syariah) dan dapat selesai dalam waktu empat tahun. Pada tingkat I, II, dan III, ia mendapatkan predikat mumtaz (istimewa), sedangkan pada tingkat IV ia meraih jayyid jiddan (sangat baik). Jadi, waktu yang dihabiskannya belajar di Madinah adalah delapan tahun. 

Ia kemudian disarankan melanjutkan pendidikannya ke tingkat magister di universitas yang sama. Tapi ia berpikir, tidak boleh berlaku zhalim terhadap diri sendiri. Saat itu ia berada di antara dua pemahaman keagamaan yang berbeda yang membuatnya seperti terombang-ambing. Di satu sisi, dalam waktu yang lama selama belajar di Singapura, Malaysia, dan Makkah, ia mendapatkan didikan para ulama Ahlussunnah, yang berpegang teguh pada paham Asy`ari. Tetapi di sisi lain, ketika belajar di Madinah ia dididik dalam lingkungan yang kental warna Wahabi-nya, yang sedikit banyak mempengaruhi dirinya.

Benar, ataukah Sesat?

Agar adil terhadap dirinya dan tidak terombang-ambing, ia memutuskan untuk mengambil ilmu dari sumber yang lain lagi. Maka setelah pulang ke Singapura tahun 1985, di awal 1986 pergilah ia ke Kairo. Saat itu ia mengajukan permohonan di Universitas Al-Azhar dan Universitas Kairo. Karena lebih dulu diterima di Universitas Kairo, ia pun segera mengikuti pelajaran di sini sambil menunggu diterima di Universitas Al-Azhar. Setelah diterima di Al-Azhar, ia pun pindah ke sana.

Baru sekitar dua minggu belajar di Al-Azhar, ibunya mulai menderita sakit dan memintanya pulang agar bisa menemaninya. Terpaksa ia membatalkan niatnya untuk melanjutkan pelajaran di sana dan langsung kembali ke Singapura.

Di negerinya, mulailah Ustadz Fouzy mengabdikan diri mengajar di samping tetap mendekatkan diri dengan para ulama untuk mengambil manfaat ilmu dan keberkahan dari mereka. Tempat pengabdiannya yang pertama di lembaga pendidikan formal adalah di Madrasah Al-Junaid Al-Islamiyyah, sekolah Islam yang termasyhur di sana. Mulai tahun 1987 ia pun menjadi imam eksekutif di Masjid Darul Aman di Jalan Eunos, Singapura. Yang dimaksud imam eksekutif adalah imam yang bukan hanya memimpin shalat dan ibadah lain, tetapi juga mengelola dakwah secara keseluruhan di masjid itu.        

Selama sekitar lima tahun ia juga mengajar di Persatuan Guru-Guru Agama Islam Singapura (Pergas) setiap hari Sabtu dan hari Ahad dengan menyampaikan beberapa materi keagamaan, seperti aqidah, fiqih, tafsir, hadits, akhlaq.

Pada tahun 1990 ia mulai membawa rombongan haji dan umrah ke Tanah Suci di beberapa perusahaan travel yang menggunakan tenaganya sebagai pembimbing. Empat tahun kemudian, 4 Juli 1994, secara resmi ia membuka usaha travel haji dan umrah sendiri yang kini tidak hanya khusus melayani haji dan umrah saja tetapi juga wisata-wisata Islami ke berbagai negeri. Aktivitasnya ini membuatnya terlibat di AMTAS (Association of Muslim Travel Agents Singapore, Asosiasi Agen Perjalanan Muslim Singapura). Ia kini menjabat presidennya untuk periode ketiga secara berturut-turut.  

Sejak dua tahun yang lalu ia pun diberi kepercayaan untuk duduk di Lajnah (Lembaga) Majelis Fatwa pada Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS). Sebulan sekali majelis ini bersidang membahas persoalan-persoalan yang dihadapi umat Islam Singapura yang hasilnya selalu dibukukan dan disebarluaskan. Masih banyak lagi aktivisnya yang lain, baik di MUIS maupun yang lainnya.        

Selain usaha travel, ia juga mendirikan usaha penyembelihan ayam halal pada tahun 1996 yang terus dijalaninya hingga kini. “Sebelumnya yang membuka usaha penyembelihan ayam halal adalah orang-orang non-muslim, sehingga tidak dapat dipastikan kehalalannya. Meskipun tidak banyak menguntungkan, bahkan terkadang membawa kerugian, tetap saya jalani, karena saya pandang sebagai fardhu kifayah,” katanya.       

Kesibukannya menangani usaha travel tak membuatnya melalaikan tugas utamanya untuk mengajar dan berdakwah. Ia tetap membuka kelas-kelas pengajian di beberapa masjid di Singapura yang telah dijalaninya sejak lama.

Saat baru kembali ke Singapura, ia sedikit banyak masih membawa gaya dan cara, serta beberapa pemikiran Wahabi yang keras. Ia pun merasa tidak harus terikat dengan madzhab, meskipun tidak anti madzhab. Karena, walaupun lama belajar di lembaga pendidikan yang kuat Wahabi-nya, ia punya bekal ilmu yang didapatnya di pesantren dan dari ulama-ulama Makkah yang sealiran dengan para gurunya di Singapura dan Malaysia. Namun pengaruh Wahabi itu membuatnya longgar dalam berpegang dengan madzhab.

Keadaan demikian, yang seperti terombang-ambing itu, membuatnya tidak nyaman. Maka ketika sedang membawa jama’ah haji atau umrah, di Masjidil Haram ia bermohon kepada Allah agar diberikan petunjuk apakah pemahaman Wahabi itu benar ataukah sesat.

Setelah berdoa, ia pun mengunjungi gurunya, Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki.

Sayyid Muhammad memberikan ijazah kepadanya dan mendoakannya. Dari gurunya ini Ustadz Fouzy mendapatkan ijazah ammah (ijazah umum) dari semua sanad yang dimilikinya.

“Setelah itu hati saya pun terbuka untuk kembali mengikuti ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah secara utuh tanpa terpengaruh lagi paham Wahabi,” katanya. Ia bersyukur karena hingga saat ini dapat mempertahankan aqidah Ahlussunnah dan bermadzhab Syafi`i sebagaimana asalnya.

Kini dengan dibantu para ustadz lain, di antaranya Ustadz Hasan Saifour Rijal, murid dan sekaligus kini menjadi sahabatnya dalam dakwah, ia mencoba menjelaskan kepada kaum muslimin, khususnya di Singapura, ihwal masalah-masalah aqidah yang sangat perlu diketahui umat. Di antaranya mengenai bagaimana sebenarnya pemahaman-pemahaman Wahabi dan bagaimana pandangan-pandangan Ahlussunnah dalam menolaknya.

AY

Sumber: http://www.majalah-alkisah.com/index.php/tamu-kita/629-ustadz-tm-fouzy-selamat-tinggal-wahabi
»»  read more

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Masuk Neraka pun Tetap Bersyukur



Diriwayatkan pada sebagian kitab Allah swt: Bahwa Jibril as,  sedang  turun ke bumi. Lantas ia melihat sosok lelaki yang memiliki pancaran

ketenangan.
“Betapa hebat lelaki ini,” kata Jibril.
Kemudian Allah Ta’ala berfirman pada Jibril, “Hai Jibril! Lihat namanya  di Lauhul Mahfudz yang berderet dengan nama-nama ahli nereka!”
“Tuhanku, lalu apakah semua ini?” Tanya Jibril.
“Hai Jibril! Sesungguhnya Aku tidak diminati pertanggungjawaban apa yang  Kulakukan, dan tak seorang pun tahu dari semua makhlukKu apa pun   PengetahuanKu, kecuali yang Aku kehendakinya…” jawab Allah Ta’ala.
“Oh Tuhan, apakah Engkau meberi izin padaku untuk memberi informasi atas apa yang aku ketahui?”
“Silakan, engkau dapat izin…” jawab Allah Ta’ala.



Jibril as lalu turun ke bumi memberi khabar apa yang sesungguhnya  terjadi dan bagaimana situasi sebenarnya yang menimpa orang itu.  Tiba-tiba orang itu malah bersujud, sembari bermunajat, “Bagimulah  segala puji wahai Tuhanku atas ketentuanMu dan takdirMu. Pujian yang  melebihi pujian orang-orang yang memujiMu, dan semakin tinggi dibanding  syukurnya orang-orang yang bersyukur.”
Orang itu terus memuji Allah Ta’ala hingga Jibril as menduga bila orang tadi tidak mendengar apa yang telah disampaikan.
“Hai hamba Allah, apakah kamu mendengar apa yang kuucapkan?” Tanya Jibril as.
“Ya, aku mendengar. Engkau memberi kabar bahwa engkau telah mendapatkan  diriku berada diantara deretan daftar ahli neraka di Lauhul Mahfudz  sana…”

“Lalu kenapa masih saja memujiNya dan bersyukur padaNya?” Tanya Jibril penasaran.
“Subhanallah wahai Jibril! Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menentukan  dengan sepenuh kesempurnaan ilmuNya, dan keluasan rahmat dan kasihNya,  dengan kelembutan RububiyahNya, serta hakikat hikmahNya. Lalu apalah  artinya aku sampai aku tidak rela? Maha Berkah Allah Tuhanku….”
Lalu orang itu sujud kembali, dan terus menerus bertasbih dan bertahmid.
Kemudian Jibruil as, kembali kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman pada Jibril, “Kembalilah ke Lauhul Mahfudz, dan lihatlah apa yang bakal kau lihat….”
Jibril kembali ke Lauhul Mahfudz, tiba-tiba nama orang tersebut berderet dengan daftar nama-nama ahli syurga.
Allah Ta’ala berfirman, “Hai Jibril! Itulah yang kau lihat, Aku tidak diminta  pertanggungjawaban apa yang Aku lakukan.”

“Ya Tuhanku, izinkah aku untuk memberi kabar apa yang kulihat.”
Allah Ta’ala berfirman, “Silakan engkau mendapat izin…”
Lalu Jibril turun dan memberi kabar apa yang dilihat di Lauhul Mahfudz.
Betapa mengejutkan lelaki itu tetap saja sebagaimana semula bermunajat:  “Ilahi, bagiMu-lah Puji wahai Tuhan atas qodlo’ dan qodarMu, pujian  yang  melebihi pujian orang yang memuji dan syukur yang melebihi  syukurnya orang yang bersyukur.”
Lalu Jibril kembali dengan penuh kekaguman atas kesempurnaan ridlo orang  itu kepada Allah Ta’ala atas apa pun hukum dan aturan yang diberlakukan  padanya..

Ahli Neraka Yang Terampuni
Begitu juga sebuah riwayat, bahwasanya Allah Ta’ala memberikan wahyu  kepada salah satu NabiNya: “Hendaknya engkau katakan pada hambaKu Fulan  bin Fulan, “bahwa kamu ahli neraka..”
 Ketika risalah itu sampai kepada si fulan itu, ia justru memuji Allah  Ta’ala.  “Alhudulillah atas apa yang telah ditentukan padaku. Perkara  adalah perkaraNya, dan hukum adalah hukumNya.”
Allah Ta’ala berfirman kepada NabiNya, “Temui sekali lagi, dan berikan  kabar padanya bahwa Aku telah mengampunimu  sepanjang ia rela atas  ketentuanKu.”
Kemudian risalah Ilahi itu disampaikan pada fulan tersebut, lalu ia menjerit dan berakhir dengan kematian.

Sumber: http://sufinews.com/index.php/Sketsa-Sufi/masuk-neraka-pun-tetap-bersyukur.sufi
»»  read more

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

KH Hamim Djazuli (Gus Miek)



 


KH Hamim Djazuli atau akrab dengan panggilan Gus Miek lahir pada 17 Agustus 1940,beliau adalah putra KH. Jazuli Utsman (seorang ulama sufi dan ahli tarikat pendiri pon-pes Al Falah mojo Kediri),Gus Miek salah-satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan pejuang Islam yang masyhur di tanah Jawa dan memiliki ikatan darah kuat dengan berbagai tokoh Islam ternama, khususnya di Jawa Timur. Maka wajar, jika Gus Miek dikatakan pejuang agama yang tangguh dan memiliki kemampuan yang terkadang sulit dijangkau akal. Selain menjadi pejuang Islam yang gigih, dan pengikut hukum agama yang setia dan patuh, Gus Miek memiliki spritualitas atau derajat kerohanian yang memperkaya sikap, taat, dan patuh terhadap Tuhan. Namun, Gus Miek tidak melupakan kepentingan manusia atau intraksi sosial (hablum minallah wa hablum minannas). Hal itu dilakukan karena Gus Miek mempunyai hubungan dan pergaulan yang erat dengan (alm) KH. Hamid Pasuruan, dan KH. Achmad Siddiq, serta melalui keterikatannya pada ritual ”dzikrul ghafilin” (pengingat mereka yang lupa). Gerakan-gerakan spritual Gus Miek inilah, telah menjadi budaya di kalangan Nahdliyin (sebutan untuk warga NU), seperti melakukan ziarah ke makam-makam para wali yang ada di Jawa maupun di luar Jawa.Hal terpenting lain untuk diketahui juga bahwa amalan Gus Miek sangatlah sederhana dalam praktiknya. Juga sangat sederhana dalam menjanjikan apa yang hendak didapat oleh para pengamalnya, yakni berkumpul dengan para wali dan orang-orang saleh, baik di dunia maupun akhirat.

ayah gus mik KH.Achmad djazuli Usman
KH.ACHMAD DJAZULI USMAN
Gus Miek seorang hafizh (penghapal) Al-Quran. Karena, bagi Gus Miek, Al-Quran adalah tempat mengadukan segala permasalahan hidupnya yang tidak bisa dimengerti orang lain. Dengan mendengarkan dan membaca Al-Quran, Gus Miek merasakan ketenangan dan tampak dirinya berdialog dengan Tuhan ,beliaupun membentuk sema’an alquran dan jama’ah Dzikrul Ghofilin.
gus miek selain dikenal sebagai seorang ulama besar juga dikenal sebagai orang yang nyeleneh beliau lebih menyukai da’wah di kerumunan orang yang melakukan maksiat seperti discotiq ,club malam dibandingkan dengan menjadi seorang kyai yang tinggal di pesantren yang mengajarkan santrinya kitab kuning. hampir tiap malam beliau menyusuri jalan-jalan di jawa timur keluar masuk club malam, bahkan nimbrung dengan tukang becak, penjual kopi di pinggiran jalan hanya untuk memberikan sedikit pencerahan kepada mereka yang sedang dalam kegelapan. Ajaran-ajaran beliau yang terkenal adalah suluk jalan terabas atau dalam bahasa indonesianya pemikiran jalan pintas.
Pernah di ceritakan Suatu ketika Gus Miek pergi ke discotiq dan disana bertemu dengan Pengunjung yang sedang asyik menenggak minuman keras, Gus Miek menghampiri mereka dan mengambil sebotol minuman keras lalu memasukkannya ke mulut Gus Miek salah satu dari mereka mengenali Gus Miek dan bertanya kepada Gus Miek.” Gus kenapa sampeyan ikut Minum bersama kami ? sampeyankan tahu ini minuman keras yang diharamkan oleh Agama ? lalu Gus Miek Menjawab “aku tidak meminumnya …..!! aku hanya membuang minuman itu kelaut…!hal ini membuat mereka bertanya-tanya, padahal sudah jelas tadi Gus Miek meminum minuman keras tersebut. Diliputi rasa keanehan ,Gus miek angkat bicara “sampeyan semua ga percaya kalo aku tidak meminumnya tapi membuangnya kelaut..? lalu Gus Miek Membuka lebar Mulutnya dan mereka semua terperanjat kaget didalam Mulut Gus miek terlihat Laut yang bergelombang dan ternyata benar minuman keras tersebut dibuang kelaut. Dan Saat itu juga mereka diberi Hidayah Oleh Alloh SWt untuk bertaubat dan meninggalkan minum-minuman keras yang dilarang oleh agama. Itulah salah salah satu Karomah kewaliyan yang diberikan Alloh kepada Gus Miek.
jika sedang jalan-jalan atau keluar, Gus Miek sering kali mengenakan celana jeans dan kaos oblong. Tidak lupa, beliau selalu mengenakan kaca mata hitam lantaran lantaran beliau sering menangis jika melihat seseorang yang “masa depannya” suram dan tak beruntung di akherat kelak.
Ketika beliau berda’wak di semarang tepatnya di NIAC di pelabuhan tanjung mas.Niac adalah surga perjudian bagi para cukong-cukong besar baik dari pribumi maupun keturunan ,Gus Miek yang masuk dengan segala kelebihannya mampu memenangi setiap permainan, sehingga para cukong-cukong itu mengalami kekalahan yang sangat besar. Niac pun yang semula menjadi surga perjudian menjadi neraka yang sangat menakutkan
Satu contoh lagi ketika Gus miek berjalan-jalan ke Surabaya, ketika tiba di sebuah club malam Gus miek masuk kedalam club yang di penuhi dengan perempuan-perempuan nakal, lalu gus miek langsung menuju watries (pelayan minuman) beliau menepuk pundak perempuan tersebut sambil meniupkan asap rokok tepat di wajahnya, perempuan itupun mundur tapi terus di kejar oleh Gus miek sambil tetap meniupkan asap rokok diwajah perempuan tersebut. Perempuan tersebut mundur hingga terbaring di kamar dengan penuh ketakutan, setelah kejadian tersebut perempuan itu tidak tampak lagi di club malam itu.
Pernah suatu ketika Gus Farid (anak KH.Ahamad Siddiq yang sering menemani Gus Miek) mengajukan pertanyaan yang sering mengganjal di hatinya, pertama bagaimana perasaan Gus Miek tentang Wanita ? “Aku setiap kali bertemu wanita walaupun secantik apapun dia dalam pandangan mataku yang terlihat hanya darah dan tulang saja jadi jalan untuk syahwat tidak ada”jawab Gus miek.
Pertanyaan kedua Gus Farid menayakan tentang kebiasaan Gus Miek memakai kaca mata hitam baik itu dijalan maupun saat bertemu dengan tamu…”Apabila aku bertemu orang dijalan atau tamu aku diberi pengetahuaan tentang perjalanan hidupnya sampai mati. Apabila aku bertemu dengan seseorang yang nasibnya buruk maka aku menangis, maka aku memakai kaca mata hitam agar orang tidak tahu bahwa aku sedang menagis “jawab Gus miek
Adanya sistem Da’wak yang dilakukan Gus miek tidak bisa di contoh begitu saja karena resikonya sangat berat bagi mereka yang Alim pun Sekaliber KH.Abdul Hamid (pasuruan) mengaku tidak sanggup melakukan da’wak seperti yang dilakukan oleh Gus Miek padahal Kh.Abdul Hamid juga seorang waliyalloh.
Tepat tanggal 5 juni 1993 Gus Miek menghembuskan napasnya yang terakhir di rumah sakit Budi mulya Surabaya (sekarang siloam). Kyai yang nyeleneh dan unik akhirnya meninggalkan dunia dan menuju kehidupan yang lebih abadi dan bertemu dengan Tuhannya yang selama ini beliau rindukan.
Ditulis dalam Tokoh Islam
»»  read more

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

“Ketidakcocokan Islam dan Demokrasi Tak Terbukti”



Penerima hadiah Nobel dari Turki, Orhan Pamuk, mengatakan bahwa dia senang melihat pemikiran bahwa Islam dan demokrasi tidak sesuai ternyata tak terbukti. (Foto: Arts Fuse)
BRUSSELS (Berita SuaraMedia) – Penerima hadiah Nobel dari Turki, Orhan Pamuk, berbicara di sebuah kanal televisi pemerintah di Brussels, mengatakan bahwa dia senang melihat pemikiran bahwa Islam dan demokrasi tidak sesuai ternyata tak terbukti.
Pamuk berada di Belgia untuk Festival Passa Porta, sebuah kegiatan sastra Belgia sepanjang akhir pekan setiap dua tahun sekali. Dia dan lebih dari 100 penulis lain termasuk Peter Esterhazy, Andrea Levy, Jens Christian Grondahl, David Mitchell, Juli Zeh dan  Douglas Kennedy, ikut serta dalam festival yang meliputi perjalanan sastra, debat penulis, naik kereta api puisi, dan tentu saja membaca.
Berbicara di televisi Belgia tentang perkembangan terbaru di Arab, Pamuk berargumen bahwa bangsa Arab tidak hanya mencari demokrasi tapi mereka juga ingin mendapatkan kembali kehormatan mereka. Dia kemudian mengatakan senang melihat bangsa lain di seluruh dunia berbagi semangat yang sama dengan bangsa Arab.
Tentang pertanyaan mengenai Turki yang diperlihatkan sebagai model demokrasi Islam dalam pemberontakan Tunisia dan Mesir, penulis internasional itu mengatakan ada pola pikir patriarkis di balik penunjukan Turki yang tidak dia sukai. “Tapi Turki memiliki demokrasi yang lebih berkembang daripada bangsa Arab lainnya. Aku harap kami tidak akan kehilangan itu,” ujarnya.
Pamuk juga berbicara tentang pemberontakan baru-baru ini di dunia Arab ketika dia masih di Jerman, di mana dia mempromosikan novelnya Cevdet Bey dan Putranya, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Memperhatikan bahwa dia tidak mau berbicara tentang politik, Pamuk mengatakan, “Perubahan terjadi tiba-tiba dalam masyarakat tertindas karena pewarta perubahan tidak bisa disuarakan.”
“Semua orang berpikir segalanya akan terus sama selamanya, tapi memang, kritik dilontarkan di dalam rumah dan tempat-tempat tertutup lainnya. Ia tidak bisa disuarakan di ruang publik. Ketika itu tidak bisa terjadi dan orang-orang tiba-tiba keluar dari rumah untuk perubahan, itu tampak terjadi dengan tiba-tiba. Itu harus tiba-tiba karena jika kau melakukannya dengan perlahan, maka mereka akan memenjarakan pelakunya.”
Pamuk lahir di Istanbul tahun 1952 dan tumbuh besar dalam keluarga yang kaya. Dia dididik di sekolah menengah Robert College di Istanbul dan melanjutkan untuk studi arsitektur di Istanbul Technical University karena terkait dengan karir impiannya yang sesungguhnya, melukis. Namun, dia keluar dari sekolah arsitektur setelah tiga tahun untuk menjadi penulis penuh waktu, dan lulus dari Institute of Journalism di University of Istanbul tahun 1976. Mulai usia 22 hingga 30 tahun, Pamuk tinggal bersama ibunya, menulis novel pertamanya dan berupaya mencari penerbit. Dia menggambarkan dirinya sebagai Muslim Kultural yang mengasosiasikan identifikasi budaya dan sejarah dengan agama.
Bulan Mei 2007, Pamuk menjadi salah satu anggota juri untuk Cannes Film Festival yang diketuai oleh sutradara Inggris Stephen Frears. Dia menyelesaikan novel terbarunya, Masumiyet Muzesi (Museum Keluguan” di musim panas 2008. (rin/it/wp) www.suaramedia.com
»»  read more

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

PCI NU Jepang Desak Kapolri Usut Tuntas dan Bongkar Jaringan Terorisme



Tokyo – Berkaitan dengan peristiwa bom bunuh diri saat berlangsungnya sholat Jum’at  (15 April 2011) yang terjadi di masjid Mapolresta Cirebon Jawa Barat yang menyebabkan pelaku meninggal serta puluhan korban luka-luka, maka  Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU Jepang melalui Raker yang diadakan di Tokyo menyampaikan hal-hal sebagai berikut:
Pertama, Mengutuk dan mengecam keras pelaku bom bunuh diri serta radikalisme dan  terorisme dalam bentuk apapun termasuk yang mengatasnamakan agama.
“Kami juga mendesak kepada aparat penegak hukum, terutama Kapolri, untuk mengusut kasus tersebut secara tuntas, membongkar jaringan terorisme di tanah air serta menegakkan hukum dengan seadil-adilnya tanpa pandang bulu,” kata Muhammad Aziz melalui release yang dikirimkan ke NU Online, Senin (18/4).
Selanjutnya, PCI NU Jepang juga mendesak kepada pemerintah untuk menjamin keamanan segenap warga masyarakat maupun orang asing di tanah air, agar citra Indonesia di luar negeri tidak makin terpuruk dan para investor menjadi enggan untuk menanamkan modalnya di tanah air.
“Kami meminta kepada semua tokoh masyarakat, politisi, para pejabat dan masyarakat luas apapun latar belakangnya untuk tidak terpancing dengan hasutan apapun yang mengatasnamakan agama,” katanya.
PCI NU Jepang juga menyerukan kepada seluruh komponen bangsa untuk selalu mengedepankan nilai-nilai kesantunan dalam beragama (akhlaqul karimah) dalam menyikapi perbedaan-perbedaan yang ada. (mkf)

Sumber: zidniagus.wordpress.com
»»  read more

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Syekh Hisyam Kabbani



Syekh Muhammad Hisham Kabbani q.s. adalah seorang ulama dan syekh sufi yang berasal dari Lebanon. Beliau lulusan American University di Beirut dalam bidang kimia. Dari sana beliau melanjutkan studi kedokteran di University of Louvain, Belgia. Beliau juga meraih gelar di bidang Hukum Islam dari Universitas al-Azhar, Damaskus. Sejak usia 15 tahun, beliau telah menemani Syekh `Abdullah ad-Daghestani q.s. dan Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani q.s., syekh agung Tarekat Naqsybandi yang mulia di masa ini. Beliau banyak melakukan perjalanan ke segala penjuru di Timur Tengah, Eropa, dan Timur Jauh untuk menemani syekhnya.

Pada tahun 1991 beliau diperintahkan syekhnya untuk pindah ke Amerika dan mendirikan yayasan bagi Tarekat Naqsybandi di sana. Sejak saat itu, beliau telah membuka 13 pusat sufi di Kanada dan Amerika Serikat. Beliau telah mengajar di sejumlah universitas, seperti: the University of Chicago, Columbia University, Howard, Berkeley, McGill, Concordia, dan Dawson College, demikian pula dengan sejumlah pusat keagamaan dan spiritual di seluruh Amerika Utara, Eropa, Timur Jauh dan Timur
Tengah.
Misi dari Syekh Hisham Kabbani q.s. di benua Amerika adalah untuk menyebarkan ajaran sufi dalam konteks persaudaraan umat manusia dan kesatuan dalam kepercayaan kepada Tuhan yang terdapat dalam semua agama dan jalur spiritual. Usahanya diarahkan untuk membawa spektrum keagamaan dan jalur-jalur spiritual yang beragam ke dalam keharmonisan dan kerukunan, dalam rangka pengenalan akan kewajiban ummat manusia sebagai kalifah Tuhan di bumi ini.
Sebagai seorang syekh sufi, Syekh Hisham q.s. telah diberi wewenang untuk membimbing para pengikutnya menuju Cinta Ilahi dan menuju tingkatan spiritual yang telah digariskan Sang Pencipta. Latihan spiritual yang berat yang telah ditempuhnya selama 40 tahun di bawah pengawasan syekh besar dan syekhnya, telah menganugerahinya kecakapan yang tinggi mencakup kebijaksanaan, cahaya ilahiah, intelektual yang diperlukan seorang guru sufi sejati.
Misi Syekh Hisham q.s. yang jauh melampaui target di Amerika adalah kontribusinya yang unik terhadap usaha umat manusia dalam mencapai takdir tertingginya, yaitu kedekatan dengan Tuhannya. Usaha beliau untuk membawa kesatuan hati dalam gerakannya menuju Inti Ilahi merupakan warisan terbesarnya kepada dunia Barat.
Syekh Hisham q.s. adalah keturunan Rasulullah saw. baik dari jalur Ayah dan Ibunya (al-Hasani al-Husayni). Dari istrinya, Hj. Nazihe Adil yang merupakan putri Syekh Nazim al-Haqqani q.s., beliau dikaruniai 3 putra dan 1 putri, serta beberapa cucu yang semuanya menetap di Fenton, Michigan.
Beberapa posisi yang beliau duduki di Amerika saat ini antara lain: Ketua Islamic Supreme Council of America (ISCA), penasihat dalam Unity One, yaitu sebuah organisasi yang ditujukan untuk perdamaian antar-gang di Amerika, penasihat dalam Human Rights Council, penasihat dalam American Islamic Association of Mental Health Providers dan penasihat dalam Office of Religious Persecution, US Department of State.
Beberapa tulisannya yang telah dipublikasikan secara internasional antara lain: Classical Islam and the Naqshbandi Sufi Tradition, Naqshbandi Sufi Way: the Story of Golden Chain, Angels Unveiled-Sufi Perspective (edisi Indonesia: Dialog dengan para Malaikat, diterbitkan Hikmah), Pearls and Coral, Encyclopedia of Islamic Doctrine (7 volume), The Permissibility of Mawlid, “Salafi” Movement Unveiled, dan The Approach of Armageddon? (edisi Indonesia: Kiamat Mendekat, diterbitkan Serambi).
Sejak tahun 1997, beliau telah beberapa kali berkunjung ke Indonesia dan sekarang telah memiliki ribuan murid yang tersebar di pelosok Jakarta, Sukabumi, Bandung, Pekalongan, Semarang, Tuban, Surabaya, Batam, Aceh, Padang, Bukittinggi, Bali dan lain-lain, yang semuanya terwadah dalam suatu keluarga besar Jemaah Tarekat Naqsybandi al-Haqqaniyah yang dalam keorganisasiannya dikelola Yayasan Haqqani Indonesia.

»»  read more

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Habib Umar bin Hafiz



Beliau ialah Habib Umar putera dari Muhammad putera dari Salim putera dari Hafiz putera dari Abdullah putera dari Abi Bakr putera dari Aidarus putera dari Hussein putera dari Syeikh Abi Bakr putera dari Salim putera dari Abdullah putera dari Abdul Rahman putera dari Abdullah putera dari Syeikh Abdul Rahman al-Saqqaf putera dari Muhammad Maula al-Dawilah putera dari Ali putera dari Alawi putera dari al-Faqih al-Muqaddam Muhammad putera dari Ali putera dari Muhammad Shahib Mirbat putera dari Ali Khali Qasam putera dari Alawi putera dari Muhammad putera dari Alawi putera dari Ubaidillah putera dari Imam al-Muhajir Ahmad putera dari Isa putera dari Muhammad putera dari Ali al-Uraidi putera dari Ja’far al-Sadiq putera dari Muhammad al-Baqir putera dari Ali Zainal Abidin putera dari Hussein sang cucu lelaki, putera dari pasangan Ali putera dari Abu Talib dan Fatimah az-Zahra puteri dari Rasul Muhammad s.a.w..
Beliau dilahirkan di Tarim, Hadramaut, salah satu kota tertua di Yaman yang menjadi sangat terkenal di seluruh dunia dengan berlimpahnya para ilmuwan dan para alim ulama yang dihasilkan kota ini selama berabad-abad. Beliau dibesarkan di dalam keluarga yang memiliki tradisi keilmuan Islam dan kejujuran moral dengan ayahnya yang adalah seorang pejuang martir yang terkenal, Sang Intelektual, Sang Da’i Besar, Muhammad bin Salim bin Hafiz bin Shaikh Abu Bakr bin Salim.
Ayahnya ialah salah seorang ulama intelektual Islam yang mengabdikan hidup mereka demi penyebaran Islam dan pengajaran hukum suci serta aturan-aturan mulia dalam Islam. Beliau secara tragis diculik oleh kelompok komunis dan diperkirakan telah meninggal, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya. Demikian pula kedua datuk beliau, Habib Salim bin Hafiz dan Habib Hafiz bin Abdullah yang merupakan para intelektual Islam yang sangat dihormati kaum ulama dan intelektual Muslim pada masanya. Allah seakan menyiapkan kondisi-kondisi yang sesuai bagi Habib Umar dalam hal hubungannya dengan para intelektual muslim disekitarnya serta kemuliaan yang muncul dari keluarganya sendiri dan dari lingkungan serta masyarakat dimana ia dibesarkan.
Beliau telah mampu menghafal al-Quran pada usia yang sangat muda dan ia juga menghafal berbagai teks inti dalam fiqh, hadis, bahasa Arab dan berbagai ilmu-ilmu keagamaan yang membuatnya termasuk dalam lingkaran keilmuan yang dipegang teguh oleh begitu banyaknya ulama-ulama tradisional seperti Muhammad bin Alawi bin Shihab dan Syeikh Fadl Baa Fadl serta para ulama lain yang mengajar di Ribat, Tarim yang terkenal itu. Maka beliau pun mempelajari berbagai ilmu termasuk ilmu-ilmu spiritual keagamaan dari ayahnya yang meninggal syahid, Habib Muhammad bin Salim, yang darinya didapatkan cinta dan perhatiannya yang mendalam pada da’wah dan bimbingan atau tuntunan keagamaan dengan cara Allah s.w.t. Ayahnya begitu memperhatikan sang ‘Umar kecil yang selalu berada di sisi ayahnya di dalam lingkaran ilmu dan zikir.
Namun secara tragis, ketika Habib ‘Umar sedang menemani ayahnya untuk solat Jumaat, ayahnya diculik oleh golongan komunis, dan sang ‘Umar kecil sendirian pulang ke rumahnya dengan masih membawa syal milik ayahnya, dan sejak saat itu ayahnya tidak pernah terlihat lagi. Ini menyebabkan ‘Umar muda menganggap bahawa tanggungjawab untuk meneruskan pekerjaan yang dilakukan ayahnya dalam bidang dakwah sama seperti seakan-akan syal sang ayah menjadi bendera yang diberikan padanya di masa kecil sebelum beliau mati syahid.
Sejak itu, dengan sang bendera dikibarkannya tinggi-tinggi, dia memulai, secara bersemangat, perjalanan penuh perjuangan, mengumpulkan orang-orang, membentuk majlis-majlis dan dakwah. Perjuangan dan usahanya yang keras demi melanjutkan pekerjaan ayahnya mulai membuahkan hasil. Kelas-kelas mulai dibuka bagi anak muda maupun orang tua di mesjid-mesjid setempat dimana ditawarkan berbagai kesempatan untuk menghafal al-Quran dan untuk belajar ilmu-ilmu tradisional.
Dia sesungguhnya telah benar-benar memahami Kitab Suci sehingga ia telah diberikan sesuatu yang khusus dari Allah meskipun usianya masih muda. Namun hal ini mulai mengakibatkan kekhawatiran akan keselamatannya dan akhirnya diputuskan beliau dikirim ke kota al-Bayda’ yang terletak di tempat yang disebut Yaman Utara yang menjadikannya jauh dari jangkauan mereka yang ingin mencelakai sang sayyid muda.
Disana dimulai babak penting baru dalam perkembangan beliau. Masuk sekolah Ribat di al-Bayda’ ia mulai belajar ilmu-ilmu tradisional dibawah bimbingan ahli dari yang mulia Habib Muhammad bin Abdullah al-Haddar, semoga Allah mengampuninya, dan juga dibawah bimbingan ulama mazhab Syafie, Habib Zain bin Sumait, semoga Allah melindunginya. Janji beliau terpenuhi ketika akhirnya dia ditunjuk sebagai seorang guru tak lama sesudahnya. Dia juga terus melanjutkan perjuangannya yang melelahkan dalam bidang dakwah.
Kali ini tempatnya adalah al-Bayda’ dan kota-kota serta desa-desa disekitarnya. Tiada satu pun yang terlewat dalam usahanya untuk mengenalkan kembali cinta kasih Allah dan Rasul-Nya s.a.w pada hati mereka seluruhnya. Kelas-kelas dan majelis didirikan, pengajaran dimulai dan orang-orang dibimbing. Usaha beliau yang demikian gigih menyebabkannya kekurangan tidur dan istirahat mulai menunjukkan hasil yang besar bagi mereka tersentuh dengan ajarannya, terutama para pemuda yang sebelumnya telah terjerumus dalam kehidupan yang kosong dan dangkal, namun kini telah mengalami perubahan mendalam hingga mereka sadar bahwa hidup memiliki tujuan, mereka bangga dengan indentitas baru mereka sebagai orang Islam, mengenakan serban/selendang Islam dan mulai memusatkan perhatian mereka untuk meraih sifat-sifat luhur dan mulia dari Sang Rasul Pesuruh Allah s.a.w..
Sejak saat itu, sekelompok besar orang-orang yang telah dipengaruhi beliau mulai berkumpul mengelilingi beliau dan membantunya dalam perjuangan dakwah maupun keteguhan beliau dalam mengajar di berbagai kota besar maupun kecil di Yaman Utara. Pada masa ini, beliau mulai mengunjungi banyak kota-kota maupun masyarakat diseluruh Yaman, mulai dari kota Ta’iz di utara, untuk belajar ilmu dari mufti Ta‘iz al-Habib Ibrahim bin Aqil bin Yahya yang mulai menunjukkan pada beliau perhatian dan cinta yang besar sebagaimana ia mendapatkan perlakuan yang sama dari Habib Muhammad al-Haddar sehingga ia memberikan puterinya untuk dinikahi setelah menyaksikan bahwa dalam diri beliau terdapat sifat-sifat kejujuran dan kepintaran yang agung.
Tak lama setelah itu, beliau melakukan perjalanan melelahkan demi melakukan ibadah Haji di Mekkah dan untuk mengunjungi makam Rasul s.a.w di Madinah. Dalam perjalanannya ke Hijaz, beliau diberkahi kesempatan untuk mempelajari beberapa kitab dari para ulama terkenal disana, terutama dari Habib Abdul Qadir bin Ahmad al-Saqqaf yang menyaksikan bahwa di dalam diri ‘Umar muda, terdapat semangat pemuda yang penuh cinta kepada Allah dan RasulNya s.a.w. dan sungguh-sungguh tenggelam dalam penyebaran ilmu dan keadilan terhadap sesama umat manusia sehingga beliau dicintai al-Habib Abdul Qadir salah seorang guru besarnya. Begitu pula beliau diberkahi untuk menerima ilmu dan bimbingan dari kedua pilar keadilan di Hijaz, yakni Habib Ahmad Mashur al-Haddad dan Habib Attas al-Habshi.
Sejak itulah nama Habib Umar bin Hafiz mulai tersebar luas terutama dikeranakan kegigihan usaha beliau dalam menyerukan agama Islam dan memperbaharui ajaran-ajaran awal yang tradisional. Namun kepopularan dan ketenaran yang besar ini tidak sedikitpun mengurangi usaha pengajaran beliau, bahkan sebaliknya, ini menjadikannya mendapatkan sumber tambahan dimana tujuan-tujuan mulia lainnya dapat dipertahankan.
Tiada waktu yang terbuang sia-sia, setiap saat dipenuhi dengan mengingat Allah dalam berbagai manifestasinya, dan dalam berbagai situasi dan lokasi yang berbeda. Perhatiannya yang mendalam terhadap membangun keimanan terutama pada mereka yang berada didekatnya, telah menjadi salah satu dari perilaku beliau yang paling terlihat jelas sehingga membuat nama beliau tersebar luas bahkan hingga sampai ke Dunia Baru.
Negara Oman akan menjadi fase berikutnya dalam pergerakan menuju pembaharuan abad ke-15. Setelah menyambut baik undangan dari sekelompok Muslim yang memiliki hasrat dan keinginan menggebu untuk menerima manfaat dari ajarannya, beliau meninggalkan tanah kelahirannya dan tidak kembali hingga beberapa tahun kemudian. Bibit-bibit pengajaran dan kemuliaan juga ditanamkan di kota Shihr di Yaman timur, kota pertama yang disinggahinya ketika kembali ke Hadramaut, Yaman.
Disana ajaran-ajaran beliau mulai tertanam dan diabadikan dengan pembangunan Ribat al-Mustafa. Ini merupakan titik balik utama dan dapat memberi tanda lebih dari satu jalan, dalam hal melengkapi aspek teoritis dari usaha ini dan menciptakan bukti-bukti kongkrit yang dapat mewakili pengajaran-pengajaran di masa depan.
Kepulangannya ke Tarim menjadi tanda sebuah perubahan mendasar dari tahun-tahun yang ia habiskan untuk belajar, mengajar, membangun mental agamis orang-orang disekelilingnya, menyebarkan seruan dan menyerukan yang benar serta melarang yang salah. Dar-al-Mustafa menjadi hadiah beliau bagi dunia, dan di pesantren itu pulalah dunia diserukan. Dalam waktu yang dapat dikatakan demikian singkat, penduduk Tarim akan menyaksikan berkumpulnya pada murid dari berbagai daerah yang jauh bersatu di satu kota yang hampir terlupakan ketika masih dikuasai para pembangkang komunis.
Murid-murid dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Kepulauan Comoro, Tanzania, Kenya, Mesir, Inggris, Pakistan, Amerika Serikat dan Kanada, juga negara-negara Arab lain dan negara bagian di Arab akan diawasi secara langsung oleh Habib Umar. Mereka ini akan menjadi perwakilan dan penerus dari apa yang kini telah menjadi perjuangan asli demi memperbaharui ajaran Islam tradisional di abad ke-15 setelah hari kebangkitan. Berdirinya berbagai institusi Islami serupa di Yaman dan di negara-negara lain dibawah manajemen al-Habib Umar akan menjadi sebuah tonggak utama dalam penyebaran Ilmu dan perilaku mulia serta menyediakan kesempatan bagi orang-orang awam yang kesempatan tersebut dahulunya telah dirampas dari mereka.
Habib Umar kini tinggal di Tarim, Yaman dimana beliau mengawasi perkembangan di Dar al-Mustafa dan berbagai sekolah lain yang telah dibangun dibawah manajemen beliau. Beliau masih memegang peran aktif dalam penyebaran Islam, sedemikian aktifnya sehingga beliau meluangkan hampir sepanjang tahunnya mengunjungi berbagai negara di seluruh dunia demi melakukan kegiatan-kegiatan mulianya.

Sumber: tamanhabaib
»»  read more

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Kualitas Wali Itu Bertingkat-tingkat



Bila mengacu pada al-Qur’an (Yunus, ayat 62-64), kriteria kewalian itu adalah iman dan taqwa. Dengan sudah terpenuhinya dua kriteria tersebut, berarti seseorang berhak menyandang predikat wali. Apakah
sesederhana itu? Menurut Dr. Asep Usman Ismail, kriteria kewalian dengan kadar keimanan dan ketaqwaan yang baru standar, barulah memenuhi konsep kewalian secara umum. Untuk tidak mengaburkan istilah wali yang demikian kudus, tentunya kita tidak bisa berpatokan pada pemahaman harpiyah dari ayat di atas. Kalau berbicara tentang kadar keimanan saja, sebagaimana dipaparkan dosen UIN Jakarta ini, standar kewalian itu haruslah mengenal Allah melalui penyaksian mata batinnya. Dan pada level ini pun masih bertingkat-tingkat kualitasnya.

Bagaimana pandangan Anda mengenai konsep kewalian?
Kalau kita kembalikan pada pengertian dasarnya, istilah wali itu kan maknanya bisa dekat, bisa juga kekasih, bisa berarti bimbingan, atau juga pemeliharaan. Jadi pengertian wali itu adalah orang yang dekat dengan Allah; karena kedekatannya itu pula maka ia layak menjadi kekasih Allah; karena telah dekat dan sekaligus menjadi kekasih-Nya, maka ia pun layak mendapat bimbingan dan juga pemeliharaan dari Allah. Karena itu konsep kewalian itu bisa dijelaskan dari sudut relasi, yaitu relasi antara seorang hamba dengan Tuhannya.

Apakah dari sudut relasi itu juga dapat menjelaskan adanya tingkatan-tingkatan diantara para wali Allah itu?
Ya, kalau berbicara tentang relasi, kondisi dan intensitas setiap manusia itu kan berbeda-beda. Ada yang baru mendekat, ada yang sudah relatif dekat, ada yang sudah dekat sekali, bahkan ada yang sudah menyatu. Karena kondisinya berbeda-beda, maka kualitas kewaliannya pun menjadi berbeda pula. Itulah sebabnya mengapa ada tingkatan-tingkatan wali.

Dengan adanya tingkatan-tingkatan tadi, apa saja kriterianya sehingga seseorang layak dikategorikan sebagai wali pada tingkatannya yang paling dasar misalnya?
Dalam al-Qur’an Surah Yunus ayat 62 sampai 64 itu disebutkan, persyaratan untuk menjadi wali itu hanya dua saja. Satu beriman, dua bertaqwa. Dari ayat inilah kemudian para ulama menyimpulkan tentang konsep walaayatul-aammah atau kewalian secara umum, ada juga yang mengistilahkannya dengan walaayatut-tauhiid.

Sejauh mana kadar iman dan taqwa harus dimiliki sehingga seseorang berhak menyandang derajat kewalian dalam konteks walaayatul-‘amah ini?
Kalau menurut Ibnu Taimiyah, kewalian secara umum itu baru konsisten atau istiqamah dalam menjalankan segala yang diperintahkan serta menjauhi segala yang dilarang Allah. Tapi belum sepenuhnya mengerjakan yang disunatkan, belum meninggalkan yang dimakruhkan. Dan untuk kategori ini seseorang belum berhak menyandang derajat kewalian dalam pengertiannya yang khusus.

Jika demikian, bila konsep kewalian secara umum ini ditonjolkan, mungkin akan berdampak pada pendangkalan makna. Lebih-lebih istilah wali ini sudah sering dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal konsep kewalian dalam Islam itu kan begitu kudus. Jadi, apa sebenarnya makna kewalian secara khusus?
Pandangan tentang konsep kewalian secara khusus itu cukup beragam. Misalnya ada yang mengklasifikasikannya menjadi 8 tingkatan, yang masing-masing tingkatan itu menunjukkan kualitas yang berbeda. Tapi ada juga yang membaginya menjadi lima tingkatan saja, misalnya Hakim at-Tirmidzi.

Lalu, siapa saja yang sudah tergolong wali dalam pengertian yang khusus ini?
Sulit juga kalau berbicara tentang person. Kita paling bisa berbicara tentang konsep. Secara konseptual, ada yang disebut walayah haqqullah. Istilah haq yang disandarkan kepada Allah itu mengandung beberapa pengertian. Dalam istilah Haq Allah itu tercermin pengertian pesan, ajaran dan perintah Allah. Karenanya haqullah bisa diartikan dengan syari’at Allah. Jadi auliya pada tingkatan ini adalah mereka yang sudah mampu menjalankan syari’at Allah secara kaaffah, yaitu secara komprehensif dan istiqamah. Jadi tidak ada konsep kewalian yang justru mengabaikan aspek syari’ah. Kecuali itu, istilah haqullah juga mengacu pada realitas wujud yang tertinggi. Jadi kewalian dalam tingkatan ini adalah mereka yang sudah mampu berintegrasi dengan realitas yang tertinggi, yaitu Allah. Pengertian berintegrasi ini tentunya harus mengacu pada apa yang dikonsepsikan oleh para sufi itu sendiri. Ada yang mengkonsepsikannya dengan ma’rifah, ada yang menyebutnya dengan ittihad, hulul dan lainnya.

Tingkatan berikutnya?
Ada lagi yang disebut waliyullah, tidak digandengkan dengan istilah haq lagi. Tingkatan ini untuk menggambarkan bahwa sang wali itu, bukan berarti tidak lagi berpegang pada syari’at. Tetapi perhatian dan orientasinya sudah pada substansi, bukan lagi berkutat pada aspek formal dari syari’at. Jadi dia sudah sampai pada tingkat merasakan inti atau substansi dari syari’at. Dalam konteks ini, Imam Asy-Syathibi mengistilahkannya dengan hikmah syari’ah. Orang pada level ini adalah mereka yang sudah mencapai Ghaayatush-shidqi fil-‘ibadah, puncak kesungguhan dalam beribadah. Dia sudah mencapai tarap optimal dalam kualitas ibadahnya. Ia sudah jauh melampaui batas minimal.

Apa perbedaan yang spesifik di antara kedua tingkatan tadi?
Kalau walaayah haqqullah disebut kaum shaadiquun. Sedangkan waliyullah disebutnya sebagai shiddiiquun. Kalau mengacu pada pendapat Ibnu Taimiah sebagaimana tadi sudah kita singgung, kewalian secara umum itu baru konsisten menjalankan segala yang diperintahkan serta menjauhi segala larangan Allah. Belum sepenuhnya mengerjakan yang disunatkan, belum meninggalkan yang dimakruhkan. Nah, kalau kelompok shaadiquun itu, secara lahiriyah, mereka sudah istiqamah menjalankan yang disunatkan serta meninggalkan yang dimakruhkan. Adapun secara batiniyah, batinnya itu sudah terhubungkan dengan Allah. Dengan kata lain, kelompok shiddiiquun adalah mereka yang sudah mencapai esensi dari syari’ah. Artinya sudah sampai pada penyerahan diri secara total kepada Allah. Dia tidak menganggap bahwa dirinya punya kemampuan. Bahkan kesadaran eksistensialnya sudah sirna, sudah fana. Batinnya sudah mu’allqun billah, sudah terpaut erat dengan Allah. Sebaliknya, orang yang jauh dari Allah itu kan umumnya karena mereka menganggap dirinya punya kemampuan, menganggap dirinya punya eksistensi yang mandiri di luar Tuhannya.

Lalu tingkatan berikutnya?
Tingkatan berikutnya, ada yang disebut al-muniibuun, yaitu orang-orang yang sudah senantiasa mengembalikan segala sesuatunya kepada Allah. Dia sudah berhasil menekan egonya, sudah dapat menekan kepentingan-kepentingan pribadinya, persepsinya tentang hal-hal duniawi sudah jernih. Orang seperti ini sudah mendekati karakter malaikat. Ada lagi yang disebut al-muqarrabuun, yaitu orang yang sudah benar-benar dekat dengan Allah. Kalau kita, misalnya kita ini betul memahami bahwa Allah itu dekat. Tetapi kita baru sampai pada taraf kognitif, tarap pemahaman. Betul saya tidak pernah mengubah pendirian saya bahwa Allah itu dekat. Saya yakin betul. Tetapi kita belum merasakan kedekatannya. Nah wali al-Muqarrabuun ini selalu dapat merasakan kedekatannya kepada Allah, dalam seluruh waktunya dan dalam sepanjang hidupnya.

Ada lagi tingkatan yang lebih tinggi dari yang tadi Anda sebutkan?
Yang lebih tinggi lagi adalah tingkatan al-munfariduun. Pada level ini berarti sang wali sudah mencapai tarap menyendiri bersama Tuhannya. Untuk dapat memahami tingkatan ini mungkin kita perlu analogi. Misalnya ada yang hendak bertamu kepada seseorang yang sudah dikenalnya. Kalau yang masih tergolong ‘am, kedekatannya itu kan baru pada taraf minimal. Saya kenal seseorang, saya tahu siapa namanya, saya tahu apa pekerjaannya, saya tahu bagaimana karakternya, saya tahu di mana rumahnya. Baru sebatas ini. Kalau pada level berikutnya, misalnya, o ya saya sudah sampai ke pekarangan rumahnya, bahkan saya sudah dipersilahkan masuk. Tapi kalau pada tingkat al-muqarrabuun, o saya bukan saja sudah dipersilahkan masuk, tapi saya sudah diajak ke ruang tengah. Saya sudah diajak berbicara. Hanya saja saya belum bertemu langsung dengannya. Sebab dia masih berada dibalik hijab. Nah, kalau tingkatan al-munfariduun, pemilik rumah sudah menampakkan diri. Bukan sekedar dekat bersamanya, tapi sudah berduaan dengannya.

Lalu apa puncak dari tingkatan kewalian itu?
Puncak dari tingkatan kewalian itu adalah khatmul walaayah. Ini juga yang disebut kutubul-auliya, poros tertinggi dari kewalian. Kalau pada tingkatan ini bukan sekedar berduaan. Kalau berduaan kan masih bisa dibedakan antara dirinya dengan Tuhannya. Jadi masih ada pemisah, aku dan Dia, atau aku dan Engkau. Sementara pada tingkatan ini antara hamba dan Tuhan itu sudah benar-benar menyatu, tidak ada lagi pemisah.

Siapa saja yang berada pada puncak kewalian ini?
Kalau berbicara tentang person, lagi-lagi tidak ada kata sepakat. Tapi umumnya ulama berpandangan bahwa pada setiap zaman itu ada wali kutubnya. Pengertian zaman di sini kurang lebih satu abad lamanya. Pada masanya Syekh Abdul Qadir Jaelani, beliau ini dipandang sebagai kutubul-auliya. Ada yang meniilai bahwa pada zaman itu juga sebenarnya ada sufi yang lain. Jadi kalau sudah berbicara pada person, bisa berbeda-beda. Ada yang berpandangan bahwa pada masa Ibnu Arabi, beliaulah wali kutubnya. Pada masa Abu Hasan As-Sazili, beliaulah wali kutubnya. Jadi kalau berbicara tentang konsep umumnya bisa sepakat. Tapi siapa yang memenuhi kriteria-kriteria pada setiap tingkatannya itu, nah itu yang tidak sepakat.

Derajat kewalian itu kan pada hakikatnya merupakan kualitas hubungan personal antara hamba dengan Tuhannya. Lantas, mengapa kemudian ada identifikasi bahwa si A itu adalah wali. Bagaimana kita dapat mengetahuinya?
Ya, betul, derajat kewalian itu menyangkut essensi keberagamaan yang bersifat pribadi dan berdimensi batini. Karena itu ada kelompok ulama yang berpandangan bahwa la ya’lamul-waliyya illal-waliyyu. Artinya, tidak ada yang dapat mengetahui bahwa seseorang itu wali, kecuali seorang wali juga.


Sumber: http://sufinews.com/index.php/Dunia-Wali/kualitas-wali-itu-bertingkat-tingkat.sufi
»»  read more

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Gus Mus Harapkan Pemimpin Takut Pada Allah dan Cinta Pada Rakyat



Gus Mus berharap para calon pemimpin merupakan orang yang takut pada Allah dan cinta pada rakyatnya. Demikian taushiyah Gus Mus pada acara Istighotsah menjelang Pemilukada Tuban yang digelar Polres Tuban dan dihadiri para calon bupati dan wakil bupati.

Dalam tausiyahnya Gus Mus, menghimbau kepada seluruah para calon bupati yang maju dalam Pemilukada Kabupaten Tuban nanti supaya bisa bertindak adil dan istiqomah ketika sudah menjadi pemimpin kabupaten Tuban.

"Semoga nanti calon yang menjadi bupati merupakan calon yang takut kepada Allah, dan cinta kepada rakyat," doa Gus Mus di sela-sela memberikan ceramah dalam acara tersebut seperti dilansir beritajatim.com.

Sementara itu ribuan masyarakat yang menghadiri acara tersebut juga nampak sejumlah calon bupati dan calon wakil bupati juga hadir dalam acara yang dilangsungkan dihalaman belakang Polres Tuban itu.

Hanya dua calon yang tidak datang dalam acara doa bersama untuk keselamatan Pemilukada itu yakni calon wakil bupati dari partai Golkar Haeny Relawati RW, yang menjadi calon pasangan Kritiawan, dan calon bupati Setiadjit yang hanya di wakili oleh calon wakilnya.

Sementara itu Kapolres Tuban, AKBP Nyoman Lastika menjelaskan jika acara istighotsah dan doa bersama itu adalah merupakan salah satu upaya untuk melakukan sosialisasi dan harapan supaya pelaksanaan Pelukada nanti bisa berjalan dengan aman.

"Ya ini juga merupakan cara untuk menciptakan Pemilukada aman dengan kita berdoa, setelah kita lakukan berbagai latihan dan antisipasi, supaya kerusuhan tahun 2006 silam tidak terulang lagi," jelas Kapolres setelah berlangsungnya acara doa bersama itu.

Kapolres menghimbua kepada seluruh pasangan calon bupati dan wakil bupati, untuk bisa bersikap bisa menerima terhadap semua yang terjadi. "Kami berharap supaya yang menang tidak banyak komentar, dan yang kalah jangan banyak komentar, supaya Pemilukada bisa aman," ungkapnya. (nuonline) 
 
Sumber: http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=14&id=1193
»»  read more

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer